Batik, Keindahan Indonesia

    BATIK adalah sebuah karya seni warisan leluhur yang dibuat oleh tenaga ahli yang memiliki jiwa seni dan kreativitas tinggi, serta diproduksi dengan menggunakan alat produksi perpaduan cara tradisional dan cara modern, sehingga akan menghasilkan suatu produk yang berkualitas, menarik, modis dan sesuai dengan trend fashion masa kini tanpa meninggalkan corak aslinya. Di Indonesia ada beberapa daerah yang menghasilkan atau memproduksi BATIK, diantaranya (selengkapnya...)

    Pilihan Hidup

    Memang selalu saja ada pilihan dalam hidup. Selalu saja ada peran yang harus kita jalani

    Namun seringkali kita berada dalam KEPESIMISAN, KENGERIAN, KERAGUAN, KEBIMBANGAN yang kita ciptakan sendiri.
    Kita kerap terbuai dengan alasan-alasan untuk tak mau melangkah, tak mau menatap hidup.

    HIDUP adalah PILIHAN Karena memilih bukan saja hak kita sebagai manusia, tetapi dengan memilih akan menjadikan kita Manusia yang lebih BERKUALITAS.

    Arien itu....

    Hallo, selamat datang di blog ku...

    aku itu orangnya simple, jadi jangan ragu-ragu untuk memberi masukan atau kritik dalam blogku ini. Asal niatnya baik insyaALLAH hasilnya juga baik...

    Thank's udah berkunjung diblog ku, semoga dapat memberikan inspirasi dan manfaat bagi kalian....
    Tampilkan postingan dengan label kisah hikmah. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label kisah hikmah. Tampilkan semua postingan

    Tamu Istimewa

    Suatu ketika, ada seorang wanita yang kembali pulang ke rumah dari perjalanannya dan ia melihat ada 3 orang pria berjanggut yang duduk di halaman depan. Wanita itu tidak mengenal mereka semua.

    Wanita itu berkata dengan senyumnya yang khas: “Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti orang baik-baik yang sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk mengganjal perut”.

    Pria berjanggut itu lalu balik bertanya, “Apakah suamimu sudah pulang?”
    Wanita itu menjawab, “Belum, dia sedang keluar”.
    “Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suamimu kembali”, kata pria itu.

    Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang isteri menceritakan semua kejadian tadi. Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian ini, lalu ia berkata pada istrinya, “Sampaikan pada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini”.

    Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam.

    “Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama” kata pria itu hampir bersamaan.
    “Lho, kenapa? tanya wanita itu karena merasa heran.

    Salah seseorang pria itu berkata, “Nama dia Kekayaan,” katanya sambil menunjuk seorang pria berjanggut disebelahnya, “sedangkan yang ini bernama Kesuksesan, sambil memegang bahu pria berjanggut lainnya.
    Sedangkan aku sendiri bernama Kasih-Sayang.
    Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa diantara kami yang boleh masuk kerumahmu.”

    Wanita itu kembali masuk kedalam, dan memberitahu pesan pria di luar. Suaminya pun merasa heran. “Oh ho…menyenangkan sekali. Baiklah, kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan Kekayaan.”

    Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, “sayangku, kenapa kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan bisnis kita.”

    Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah. “Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Kasih-sayang yang masuk ke dalam? Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan Kasih-sayang”

    Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka. “Baiklah, ajak masuk si Kasih-sayang ini ke dalam. Dan malam ini, Si Kasih-sayang menjadi teman santap malam kita.”

    Wanita itu kembali ke luar, dan bertanya kepada 3 pria itu. “Siapa diantara Anda yang bernama Kasih-sayang? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi tamu kita malam ini.”

    Si Kasih-sayang berdiri, dan berjalan menuju beranda rumah.

    Ohho.. ternyata, kedua pria berjanggut lainnya pun ikut serta. Karena merasa ganjil, wanita itu bertanya kepada si Kekayaan dan si Kesuksesan.
    “Aku hanya mengundang si Kasih-sayang yang masuk ke dalam, tapi kenapa kamu ikut juga?”

    Kedua pria yang ditanya itu menjawab bersamaan. “Kalau Anda mengundang si Kekayaan, atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar. Namun, karena Anda mengundang si Kasih-sayang, maka, kemana pun Kasih sayang pergi, kami akan ikut selalu bersamanya. Dimana ada Kasih-sayang maka kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta. Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami berdua ini buta. Dan hanya si Kasih-sayang yang bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan. Saat kami menjalani hidup ini.”

    Ehm, . . . .

    Tak lengkap meraih sukses dan kekayaan tanpa dinaungi kasih-sayang dalam diri kita.
    0 komentar | Selengkapnya→

    Ingin Gaji Besar, di Mana ?

    Seorang penjual buah membeli satu kilogram beras dari petani. Si petani menjamin jika berasnya tidak enak maka uang boleh kembali. Sampai di rumah, penjual buah curiga bahwa beras yang dibelinya tidak benar-benar seberat satu kilogram.
    Segera ia timbang beras itu. Benar saja, hanya 800 gram. Yakinlah ia bahwa si petani telah berlaku curang. Dengan marah ia melaporkan ke Kepala Desa.
    "Bapak punya timbangan untuk menjual beras?" tanya Kepala Desa kepada petani.
    "Tidak, Pak" jawab si petani. "Lho bagaimana Bapak menimbang beras yang dijual ke penjual buah ini?"
    Petani itu menjawab, mudah saja, Pak. Saya memakai sekilogram buah yang saya beli dari tukang buah itu sebagai penyeimbangnya.
    Si penjual buah ketiban malu karena sikapnya sendiri.
    Dari cerita di atas dapat kita ambil kesimpulan, si penjual buah telah 'memborong' tiga sikap melemahkan diri yang sangat berbahaya dalam bekerja, yaitu : mudah marah tanpa intropeksi diri, tergesa-gesa dan tamak. Inilah yang kerap menjadi biang keladi ketidakbahagiaan kita dalam bekerja.
    Banyak orang mengeluh pekerjaannya sangat tidak menyenangkan, tempat kerja tidak profesional, bahkan ada yang mengatakan ia bekerja hanya mengharap gaji, saking sebalnya dengan berbagai hal yang terjadi di tempat ia bekerja.
    Sesungguhnya tanpa sadar kita sering 'menghukum' orang lain tanpa berpikir kita pun sering melakukan hal yang sama. Si penjual buah menganggap petani curang. Padahal ia tak ubahnya dengan si petani, curang dalam menimbang.
    Menghukum orang lain tanpa instropeksi diri, bisa jadi karena akibat ketamakan dan ketergesaan kita, itu adalah poin pertama.
    Kedua, ketika kita membiasakan diri akrab dengan seseorang yang dirasa senasib sepenanggungan, padahal ia mempunyai sikap-sikap melemahkan, dijamin tak lama lagi kita akan menjadi orang yang tidak puas akan banyak hal. Kita menjadi tergerak untuk meluruskan orang, sementara diri sendiri tak diluruskan.
    Poin ketiga, adalah menempatkan pekerjaan dan ibadah berjalan seiring. Tentu sangat wajar bila kita mengharapkan gaji, namun jangan sampai hanya itu yang kita niatkan.
    Renungilah, ketika kita memberikan pelayanan kepada orang lain, banyak orang yang lega karena masalahnya terselesaikan. Ketika kita menyebar informasi bermanfaat, tak sedikit yang mampu mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Atau, ketika kita bertugas menjaga keamanan, banyak orang terselamatkan karena kerja kita.
    inilah ibadah dalam bekerja. Jika dilakukan dengan semangat memberi manfaat kepada orang lain, nilainya beribu-ribu kali lebih tinggi dibandingkan gaji yang kita terima. Jariyahnya akan terasa sampai ke alam kubur.
    Tidak hanya itu, kepuasan konsumen akan menjadi pemicu datangnya rejeki lain untuk kita, mungkin tidak dari tempat kita bekerja. Berapapun gaji yang kita terima, besar atau kecil, kitalah yang mampu memaknai dan merasakan kenikmatannya.
    1 komentar | Selengkapnya→

    Sengsara Membawa Nikmat

    Pernah ku lihat suatu kejadian yang sangat miris dan sangat melukai hati ini. Pukul empat sore di sebuah rumah sakit. Suasana yang lengang menjelang datangnya jam besuk petang hari itu. Di balik kamar perawatan, dimana mayoritas pasien tertatih berbenah membersihkan diri dengan air suam kuku yang disediakan rumah sakit. Akupun sekenanya membantu temanku mengelap tubuhnya yang terbaring lemah di sudut kamar yang berpenghuni empat orang. Tersentak hati ini tak kala mendengar gemuruh oleh suara omelan panjang pendek yang memerahkan telinga siapapun yang mendengarnya.
    Omelan lelaki tinggi besar itu tertuju pada istrinya yang kurus kering, tergolek ditempat tidur karena ginjalnya rusak parah. Rupanya si suami sudah tak tahan menunggui istrinya yang tak kunjung membaik setelah hampir dua minggu dirawat. Ia harus membantu istrinya BAB ditempat tidur, tiap hari pulang pergi dari rumah ke rumah sakit, waktu istirahatnya yang tak menentu, dan biaya rumah sakit yang kian membengkak.
    Tak ayal, si istri dicerca sebagai penyebab masalah karena tidak bisa menjaga kesehatan, menghabiskan uang, dan membuat suami letih. Hati ini terasa diremas melihat perempuan itu dihina sedemikian rupa di depan orang lain. Ia hanya bisa menitikkan air mata, tanpa bersuara. Beberapa hari kemudian ia meninggalkan kamar dengan langkah gemetar dan wajah pucat pasi. Suaminya memaksanya pulang.
    Mungkin ini adalah salah satu sesi hidup yang terkadang sukar kita lalui dengan tabah. Meski pada kenyataanya, ada manusia yang hidupnya sangat sulit dan mengibakan tapi mampu ia lalui dengan tersenyum. Kita juga sering mendengar orang cacat yang sukses, bukan??
    Lalu mengapa ada manusia yang 'penuh senyum' di tengah badai yang menghadangnya, ada pula yang baru 'disenggol' sedikit kesengsaraannya sudah mencaci dan meratap, seolah ia termalang di dunia??
    Tekanan dan masalah sesungguhnya mampu membentuk watak, karakter, dan pola pikir seseorang sehingga sikapnya dalam merespon masalah kelak akan berproses membentuk pola. Ada orang yang mampu bereaksi positif terhadap cobaan, walau sesekali sikap negatifnya muncul juga. Atau sebaliknya, sisi negatif dominan terlihat.
    Sikap yang otomatis muncul pada hantaman pertama cobaan adalah sikap yang paling sering dibiarkan tumbuh oleh si empunya jiwa. Sesungguhnya semua kesulitan merupakan peluang bagi jiwa kita untuk tumbuh.
    Kesulitan hidup tidak akan abadi jika kita menyadari ia adalah proses perjuangan kita untuk naik ke taraf kehidupan yang lebih tinggi. Ini yang membedakan orang yang sukses dengan orang rata-rata. Bukan kepandaian, kekuatan atau kekayaan yang dimiliki, tetapi yang membuat orang bertambah hebat adalah penyikapannya dalam menanggung penderitaan yang tak terperi dan menahan yang tak tertangguhkan.
    Semangat bertahan adalah sifat yang harus ada dalam penjelajahan pertumbuhan pribadi. Ada istilah yang mengatakan "Beristirahat atau berhenti di tengah badai salju berarti mati. Teruslah melangkah dan bergeraklah melakukan sesuatu ketika tersesat dalam badai, meskipun dalam keputusasasan".
    Proses melangkah dan melakukan hal positif di tengah badai kehidupan, merupakan hal yang luar biasa dalam hidup seseorang. Karena sesungguhnya ia bertempur bukan melawan badai dari luar, melainkan keganasan di dalam dirinya, yaitu hawa nafsu untuk tidak berlaku tabah.
    Menikmati proses perjuangan menuju keberhasilan jauh lebih indah dibanding menikmati keberhasilan itu sendiri. Ketika akhirnya sikap positif berbuah, betapa indahnya mengenang perjuangan ketabahan yang sudah lewat.
    0 komentar | Selengkapnya→

    Perjalanan Nabi

    Ketika Rasulullah saw mendengar suara ALLAH dari arasy-Nya, dan bersimpuh memandangi keindahan cahaya-Nya, dengan gemetar ia berkata, "Ya, ALLAH, aku tak tahu dengan cara apa harus memuji Engkau."

    ALLAH menjawab. "Hai, kekasihku. Kalau engkau tak mampu mengungkapkannya dengan kata-kata, biarlah Aku yang berbicara untuk engkau. Jika engkau merasa tak layak memuji-Ku, akan Ku jadikan alam semesta mewakili engkau sehingga setiap jengkal sisinya memuji-Ku atas nama engkau."
    Begitu terpaku sang Nabi menikmati keagungan itu sehingga ia memohon, "Ya, Rabb jangan pulangkan aku ke dunia yang penuh petaka itu. Jangan campakkan aku kembali dalam guncangan kefanaan dan kepalsuan hawa nafsu."

    Namun, ALLAH menyanggah, "Tidak, tidak mungkin itu. Sudah merupakan titah-Ku engkau harus kembali ke dunia untuk menegakkan hukum-hukum-Ku, agar dapat kau regup kenikmatan seperti yang Ku anugrahkan kepada engkau hari ini, di sini."

    Dan tatkala akhirnya Rasulullah turun dari perjalanan mikrajnya serta telah berkumpul dengan keluargan dan umatnya, acap kali ia merindukan saat-saat yang mengesankan itu. Sebagai salah satunya hiburan untuk menyirnakan gulananya, ia sering berkata pada Bilal, "Hai sahabatku, hiasilah pendengaranku dengan suara azanmu." Lalu dengan salat, Rasulullah memperoleh kebahagiaan itu, berdekat-dekat dengan ALLAH di depan aras-Nya. Oleh karena itu, ia bersabda : "Salat itu mikrajnya orang-orang beriman."

    Jalan ini ditempuh para sufi apabila mereka terbentur pada persoalan dunia yang sulit dicerna dan ditanggulangi. Mereka lari kepada ALLAH tiap kali tidak mampu menyebrangi kesenjangan dengan sesama makhluk-Nya. Menghadapi Raja yang zalim, hartawan yang ingkar, dan pembangkang yang durjana, jika dengan lidah sudah tidak berdaya lagi, mereka akan bersujud di kaki Tuhan agar ia berkenan berbicara untuk mereka. Sebab Rasulullah pernah menyatakan, "Sesungguhnya ALLAH berjanji, "Bila Aku mencintai hamba-ku, aku akan menjadi telinganya hingga ia mendengar dengan telinga-Ku, Aku akan menjadi matanya hingga ia melihat dengan mata-Ku, Aku akan menjadi lidahnya sehingga ia berbicara dengan lidah-Ku, dan Aku akan menjadi tangannya hingga ia berbuat dengan tangan-Ku."
    0 komentar | Selengkapnya→

    Pengeluh Ditengah Samudra

    Suatu ketika dikisahkan ada sebuah keluarga yang hidup d sebuah desa yang terpencil di kepulauan yang terpencil pula. Keluarga ini hidup dalam keadaan yang sangat sederhana, tapi walau pun begitu keluarga ini memiliki seorang kepala rumah tangga petani yang sangat bertanggung jawab, rajin bekerja, tak kenal lelah untuk selalu berusaha, selalu bersemangat, dan juga selalu tersenyum pada setiap anggota keluarganya.

    Tabi'at sang ayah ini sangat diteladani dan menjadi panutan bagi segenap anggota keluarganya. Sayangnya, ketika semua anggota menjadi baik karena keteladanan sang ayah, sang istri yang seharusnya menjadi pendamping setia sang ayah selalu saja mengeluhkan setiap kejadian yang terjadi di kehidupan keluarganya. Selalu saja ada yang kurang pada keluarga itu. Makanan yang kurang enak, pakaian yang kurang banyak, anak2 yang kurang berbakti pada orang tua, padahal kalau dibandingkan dengan anak2 seumuran mereka yang lain mereka adalah anak2 yang luarbiasa, mereka selalu membatu ayah ibunyanya bekerja, selalu bersikap sopan santun dan bersikap lemahlembut pada kedua orang tuanya, tapi di mata ibunya - istri sang ayah - selalu saja sikap mereka dianggap kurang berbakti.

    Bahkan suatu ketika, ketika sang ayah pulang bekerja dengan membawa hasil yang tidak seberapa, sang istri begitu marahnya dan kesal padanya hingga ia memelototkan matanya sambil mengomel tiada henti, dan reaksi sang ayah tetap sama, ia tetap selalu tersenyum pada istri yang dicintainya dan menenangkannya.

    Pada suatu ketika ketika sang ayah sedang bekerja, ayah mendengar bahwa di ibukota kepulauan itu sedang diadakan sebuah proyek pembangunan kota dimana imbalan yang diberikan pada setiap pekerjanya sangat baik. Mendengar berita ini sang ayah segera saja ia bergegas pulang kerumah, untuk mengabari keluarganya. Seluruh keluarganya senang mendengar berita ini. Mereka bersepakat untuk pindah kekota guna memperoleh penghidupan yang lebih baik. Bahkan lebih dari itu sang istri yang biasanya mengeluh terhadap segala sesuatu kali ini ia begitu gembira. Telah terbayangkan olehnya pendapatan sang ayah yang semakin baik, kehidupan kota yang meriah, dan sebagai-sebagainya lagi. Tapi ada satu hal yang merisaukan sang istri, untuk menuju ibu kota keluarga tersebut harus menyebrangi lautan samudra, sang istri sangat membenci dan takut pada lautan samudra, hal ini dikarenakan selama ini ia selalu hidup di dataran tinggi bertani sekeluarga turun menurun dari nenek moyangnya.

    Sang ayah lagi-lagi menenangkan istrinya, ia mengatakan bahwa nanti ketika mereka menyebrangi lautan samudra ia berjanji akan membawa keluarganya dengan kapal angkut penumpang yang terbesar yang pernah ada d kepulauan tersebut. Ia menambahkan bahwa nanti ketika berada d kapal angkut tersebut ia tidak akan bisa membedakan apakah sedang berada d daratan atau d lautan samudra. Ada banyak makanan dan hiburan di kapal itu. Mendengar penuturan sang ayah sang istri lega hatinya dan semakin mantap utk segera pergi berangkat ke ibukota. Semua persiapan telah dilakukan, seluruh bekal telah dipersiapkan dengan sangat baik dan waktu keberangkatan telah ditentukan. Tapi lagi-lagi sang istri mengeluh, kali ini pada sang waktu, kenapa saat-saat yang d tunggu tak juga kunjung tiba, selama masa penantian ia selalu mengomel tiada henti, hatinya begitu tak sabar untuk segara berangkat.

    Hari keberangkatan tiba, seluruh penumpang kapal angkut dari kepulauan itu menaiki kapal angkut penumpang yang sangat besar tersebut. Dan benar saja ketika keluarga tersebut berada d atas kapal angkut itu, karena besarnya kapal itu, ombak d dermaga tidak terasa sama sekali, seolah2 mereka sedang berada d daratan. Lantai kapal yang mereka pijak tidak bergoyang sama sekali karena ombak dermaga. Kapal pun berangkat. Tak lama kemudian bermacam kesenian rakyat pun mulai dimainkan oleh para penumpang kapal, perasaan ini benar2 seperti perasaan ketika berada di daratan. Tapi sang sang istri lagi2 mengeluh karena kesenian2 itu terlihat sangat kampungan dan tidak enak untuk dilihat.

    Tak lama kemudian, daratan mulai hilang dari pandangan. Pertanda bahwa kapal angkut sudah mulai berlabuh jauh di tengah lautan samudra. Angin laut mulai bertiup kencang, tapi ombak lautan samudra tetap tidak memberikan guncangan2 yang berarti pada kapal itu, bahkan hampir tidak terasa sama sekali. Wajah sang istri yang terkena hempasan-hempasan angin laut sedari tadi mulai menunjukan rona yang sangat mencemaskan. Imaginasi ketakutannya dan semua pikiran galaunya muncul seketika karena ia saat ini berada d tengah lautan samudra. Lautan samudra yang selama ini sangat di takutinya, ia sama sekali tidak menyadari dan mensyukuri bahwa ia saat ini berada di atas sebuah kapal angkut yang sangat besar (hasil usaha jerih payah sang ayah), yang juga sudah sangat terbiasa membawa penumpangnya selamat sampai tujuan ke ibukota kepulauan.

    Kecemasan sang istri semakin menjadi-jadi, kegalauannya membuatnya semakin histeris, ia mulai menangis dan selalu menangis d atas kapal itu, sang ayah dan keluarga lainnya tak lagi mampu menghentikan kegalauan dan kecemasan sang istri, ia menangis sejadi-jadinya. Ia selalu meracau dan mengeluh tentang segala keadaannya di atas kapal, keselamatannya di atas kapal, dan mengeluh tentang semua yang ada di kapal itu, dan ia takut kekurangan dengan berada di kapal itu, dan bahwa saat ini ia berada di tengah lautan samudra membuatnya semakin kehilangan akalnya. Tak ada lagi yang mampu menenangkannya. Penumpang kapal yang lainnya sudah terganggu sedari tadi karena ulah sang istri. Bahkan para kru dan nakhoda kapal tak mampu lagi menenangkan sang istri. Kapal dalam keadaan bingung karena ulah sang istri.

    Pada saat membingungkan tersebut dari kerumunan warga di sekitar sang istri terdengar suara berat yang berkata "Aku mampu menenangkan wanita itu", sontak saja semua warga di sekitar sang istri melihat ke arah datangnya suara. Ia adalah seorang tua, dari penampilannya ia dapat dikatakan seorang guru yang bijak. Dan ia mengucapkan sekali lagi "Aku mampu menenangkan wanita itu". Segera ia dihampiri nakhoda kapal dan sang ayah, dan bertanya pada nya "Bagaimana guru melakukannya", ia hanya tersenyum, berkata "ijinkan aku melakukan apa yang harus aku lakukan", nakhoda dan sang ayah saling berpandangan dengan heran dan sejuta tanya "Baiklah guru apapun boleh kau lakukan, tapi dengan syarat kau tidak membunuhnya atau menyakitinya". Sang guru mengiyakan persyaratan nakhoda dan sang ayah.

    Tak lama setelah sang guru membisikan sesuatu ke telinga nakhoda beberapa saat lamanya, juga melakukan hal yang sama pada sang ayah, lalu 2 orang ABK berbadan tegap muncul dari kerumunan dan segera mengangkat wanita/sang istri tersebut, berada dalam dekapan 2 ABK kapal yang kekar dan tegap tidak bisa membuat wanita/sang istri berkutik. Segera saja ABK itu membawa sang istri ke pinggiran pagar pembatas kapal dan tiba2 melemparkan sang istri yang pengeluh dan cemas ke tengah lautan samudra lepas,. Sang istri berteriak histeris, tapi tak seorangpun yang menolong, ini lagi2 atas perintah nakhoda dan bahwa persyaratannya tadi pasti akan di tepati oleh sang guru.

    Sang istri berteriak seolah gila di atas lautan samudra lepas, ia terus meronta di atas air lautan samudra lepas, seluruh tenaganya terkuras habis di atas lautan samudra lepas, sampai ia lemas dan mulai terdiam di atas air lautan samudra lepas. Tak lama setelah sang istri benar2 lemas di tengah lautan samudra pertolongan pun segera di berikan. Pelampung2 kapal segera dilemparkan, diturunkan, diberikan pada sang istri, para perenang turun menyelamatkan dan mengangkat kembali sang istri keatas kapal angkut yang besar.

    Tubuhnya yang menggigil segera di selimuti selimut hangat. Tapi ia kini tidak meracau lagi, ia tidak menangis lagi, ia tidak mengeluh lagi. Ia mulai mensyukuri keadaannya saat ini.

    " Ia tersadar Walaupun ia berada di tengah lautan samudra yang sangat di takutinya, keadaannya saat ini jauh lebih baik dari pada ketika ia berada di permukaan air lautan samudra. Keadaannya di atas kapal yang sesaat tadi sangat dikeluhkannya, dicemasinya, jauh lebih baik dari pada saat ia tercebur d lautan samudra ".

    Sang guru melihat ekspresi syukur dari sang istri hanya tersenyum. Nakhoda kapal tersenyum, sang ayah tersenyum, keluarga itu tersenyum, dan semua yang menyaksikan kejadian itu ikut juga tersenyum. Mereka semua mensyukuri atas2 apa yang mereka rasakan saat ini. Dan sang istri saat ini begitu menikmati seluruh sisa perjalanan kapal menuju ibukota, pertunjukan rakyat yg tadinya begitu kampungan d matanya kini terlihat sangat menghibur ketakutannya d tengah lautan samudra. Sampai ia sampai d ibukota nanti.

    Sejak saat itu, sang istri yang berhasil mengambil pelajaran dari perjalanan kapalnya selalu mensyukuri setiap keadaanya saat ini. Ketika keadaan menjadi kurang baik ia selalu ingat ketika ia tercebur d tengah samudra dan segera ia mensyukuri setiap keadaanya saat ini.
    0 komentar | Selengkapnya→

    Kisah Pria yang Bosan Hidup

    Seorang pria setengah baya mendatangi seorang guru ngaji, “Ustad, saya sudah bosan hidup. Sudah jenuh betul. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati.” Sang Ustad pun tersenyum, “Oh, kamu sakit.” “Tidak Ustad, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati.”

    Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Ustad meneruskan, “Kamu sakit. Dan penyakitmu itu sebutannya, ‘Alergi Hidup’. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan.” Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan mengalir terus, tetapi kita menginginkan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Resistensi kita, penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. Yang namanya usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam hal berumah-tangga,bentrokan-bentrokan kecil itu memang wajar, lumrah. Persahabatan pun tidak selalu langgeng, tidak abadi. Apa sih yang langgeng, yang abadi dalam hidup ini? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita.

    “Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku.” demikian ujar sang Ustad. “Tidak Ustad, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup.” pria itu menolak tawaran sang Ustad. “Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?” “Ya, memang saya sudah bosan hidup.” “Baik, besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini. Setengah botol diminum malam ini, setengah botol lagi besok sore jam enam, dan jam delapan malam kau akan mati dengan tenang.” Giliran dia menjadi bingung. Setiap Ustad yang ia datangi selama ini selalu berupaya untuk memberikannya semangat untuk hidup. Yang satu ini aneh. Ia bahkan menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.

    Pulang kerumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut “obat” oleh Ustad edan itu. Dan, ia merasakan ketenangan sebagaimana tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai! Tinggal 1 malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah. Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran masakan Jepang. Sesuatu yang sudah tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Pikir-pikir malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya santai banget! Sebelum tidur, ia mencium bibir istrinya dan membisiki di kupingnya, “Sayang, aku mencintaimu.” Karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Pulang kerumah setengah jam kemudian, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir,ia ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istripun merasa aneh sekali, “Mas, apa yang terjadi hari ini? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku, mas.”

    Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, “Hari ini, Bos kita kok aneh ya?” Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan apresiatif terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya. Pulang kerumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, “Mas, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu.” Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, “Ayah, maafkan kami semua. Selama ini, ayah selalu stres karena perilaku kami semua.”

    Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia membatalkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya? ” Ya Allah, apakah maut akan datang kepadaku. Tundalah kematian itu ya Allah. Aku takut sekali jika aku harus meninggalkan dunia ini ”. Ia pun buru-buru mendatangi sang Ustad yang telah memberi racun kepadanya. Sesampainya dirumah ustad tersebut, pria itu langsung mengatakan bahwa ia akan membatalkan kematiannya. Karena ia takut sekali jika ia harus kembali kehilangan semua hal yang telah membuat dia menjadi hidup kembali.

    Melihat wajah pria itu, rupanya sang Ustad langsung mengetahui apa yang telah terjadi, sang ustad pun berkata “Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh, Apa bila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan.” Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Ustad, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Ah, indahnya dunia ini…… (mailist)
    0 komentar | Selengkapnya→

    Ini Pun Akan Berlalu

    Salah satu pengajaran tak ternilai yang dapat membantu mengatasi depresi, adalah juga salah satu yang paling sederhana, mudah untuk disalahpahami. Hanya jika kita akhirnya sudah terbebas dari depresi, barulah kita boleh menyatakan diri sudah betul-betul memahami cerita berikut ini.

    Seorang narapidana baru merasa ketakutan dan tertekan. Tembok-tembok batu di selnya seperti menyerap habis semua kehangatan; jeruji-jeruji besi bagai mencemooh segala belas kasih; suara gelegar baja yang beradu ketika gerbang ditutup, mengunci harapan jauh-jauh. Hatinya terpuruk sedalam hukumannya yang sedemikian lama. Di tembok, di atas kepala tempat tidur lipatnya, dia melihat sebuah kalimat yang tergores di sana: INI PUN AKAN BERLALU.

    Kalimat itu melecut semangatnya, mungkin demikian juga dengan narapidana lain sebelum dia. Tak peduli betapa beratnya, dia akan menatap tulisan itu dan mengingatnya: ini pun akan berlalu. Pada hari dia dibebaskan, dia mengetahui kebenaran dari kata-kata itu. Waktunya telah terpenuhi; penjara pun telah berlalu.

    Ketika dia menjalani kembali kehidupan normalnya, dia sering merenungi pesan itu, menulisnya di secarik kertas untuk ditaruh di samping tempat tidurnya, di mobil, dan di tempat kerja. Bahkan saat dia mengalami hal-hal yang buruk, dia tak akan menjadi depresi. Dengan mudah dia akan mengingat "ini pun akan berlalu", dan terus berjuang. Saat-saat yang buruk pun tidak memerlukan waktu lama untuk berlalu. Lalu ketika saat-saat yang menyenangkan tiba, dia menikmatinya, tetapi tanpa terlalu sembrono. Sekali lagi dia akan mengingat, "ini pun akan berlalu", dan terus lanjut bekerja, tanpa menggampangkan hal yang menyenangkan itu. Saat-saat yang indah biasanya juga tak akan bertahan lama-lama.

    Bahkan ketika dia menderita kanker, "ini pun akan berlalu" telah memberinya pengharapan. Pengharapan memberinya kekuatan dan sikap positif yang mengalahkan penyakitnya. Suatu hari, dokter spesialis memastikan bahwa "kanker pun telah berlalu".

    Pada hari-hari terakhirnya, di atas ranjang kematian, dia membisikkan kepada orang-orang yang dicintainya, "ini pun akan berlalu," dan dengan enteng dia meninggalkan dunia ini. Kata-katanya adalah pemberian cinta terakhir bagi keluarga dan teman-temannya. Mereka belajar darinya bahwa "kesedihan pun akan berlalu".

    Depresi adalah sebuah penjara yang sering dialami oleh kita-kita ini. "ini pun akan berlalu" membantu melecut semangat kita; juga menghindarkan salah satu penyebab depresi hebat, yaitu tidak mensyukuri saat-saat bahagia. (Ajahn Brahm)
    0 komentar | Selengkapnya→

    Ayam atau Bebek

    Sepasang pengantin baru tengah berjalan bergandengan tangan di sebuah hutan
    pada suatu malam musim panas yang indah, seusai makan malam.
    Mereka sedang menikmati kebersamaan yang menakjubkan tatkala mereka
    mendengar suara di kejauhan: "Kuek! Kuek!"

    "Dengar," kata si istri, "Itu pasti suara ayam."

    "Bukan, bukan. Itu suara bebek," kata si suami.

    "Nggak, aku yakin itu ayam," si istri bersikeras.

    "Mustahil. Suara ayam itu 'kukuruyuuuk!', bebek itu 'kuek! kuek!' Itu
    bebek, Sayang," kata si suami dgn disertai gejala-gejala awal
    kejengkelan.

    "Kuek! Kuek!" terdengar lagi.

    "Nah, tuh! Itu suara bebek," kata si suami.

    "Bukan, Sayang. Itu ayam. Aku yakin betul," tandas si istri, sembari
    menghentakkan kaki.

    "Dengar ya! Itu a? da? lah? be? bek, B-E-B-E-K. Bebek! Mengerti?" si
    suami berkata dengan gusar.

    "Tapi itu ayam," masih saja si istri bersikeras.

    "Itu jelas-jelas bue? bek, kamu? kamu?."

    Terdengar lagi suara, "Kuek! Kuek!" sebelum si suami mengatakan sesuatu
    yang sebaiknya tak dikatakannya.

    Si istri sudah hampir menangis, "Tapi itu ayam?."

    Si suami melihat air mata yang mengambang di pelupuk mata istrinya,
    dan akhirnya, ingat kenapa dia menikahinya. Wajahnya melembut dan katanya
    dengan mesra, "Maafkan aku, Sayang. Kurasa kamu benar. Itu memang suara
    ayam kok."

    "Terima kasih, Sayang," kata si istri sambil menggenggam tangan suaminya.

    "Kuek! Ku ek!" terdengar lagi suara di hutan, mengiringi mereka berjalan
    bersama dalam cinta.

    Maksud dari cerita bahwa si suami akhirnya sadar adalah: siapa sih yang
    peduli itu ayam atau bebek? Yang lebih penting adalah keharmonisan mereka,
    yang membuat mereka dapat menikmati kebersamaan pada malam yang indah itu.
    Berapa banyak pernikahan yang hancur hanya gara-gara persoalan sepele?
    Berapa banyak perceraian terjadi karena hal-hal "ayam atau bebek"?

    Ketika kita memahami cerita tersebut, kita akan ingat apa yang menjadi
    prioritas kita. Banyak hal jauh lebih penting ketimbang mencari siapa yang
    benar tentang apakah itu ayam atau bebek. Lagi pula, betapa sering kita
    merasa yakin, amat sangat mantap, mutlak bahwa kita benar, namun belakangan
    ternyata kita salah? (mailist)
    0 komentar | Selengkapnya→

    Siluman Pemangsa Amarah

    Yang jadi masalah dengan kemarahan adalah bahwasanya kita menikmati marah. Ada sejenis kecanduan dan kenikmatan besar sehubungan dengan pelampiasan kemarahan. Dan kita tak ingin membiarkan sesuatu yang kita nikmati berlalu begitu saja. Bagaimanapun juga, ada juga bahaya dalam kemarahan, suatu konsekuensi yang lebih berat daripada kesenangannya. Jika saja kita menyadari buah dari kemarahan, dan selalu ingat hubungannya dengan kemarahan, kita akan rela membiarkan kemarahan berlalu.

    Di sebuah alam, pada zaman dahulu kala, sesosok siluman masuk ke istana ketika raja sedang pergi. Siluman itu sangat buruk rupa, baunya sangat tidak sedap, dan apa pun yang dia katakan begitu menjijikkan sampai-sampai para pengawal dan pekerja istana terpaku dalam kengerian. Karena itu, si siluman seenaknya saja melenggang masuk, menuju aula pertemuan kerajaan, dan mendudukkan dirinya di singgasana raja. Melihat siluman itu dengan kurang ajarnya duduk di singgasana raja, para pengawal dan pekerja lainnya menjadi tersadar dari keterpakuan mereka.

    "Keluar dari sini!" bentak mereka. "Kamu tidak boleh duduk di situ! Jika kamu tidak angkat pantat sekarang juga, kami akan tebas kamu dengan pedang!"

    Karena mendapatkan sedikit kata-kata amarah ini, siluman itu membesar beberapa inci, tampangnya bertambah jelek, tambah bau, dan omongannya makin jorok saja.

    Pedang-pedang dihunus, golok dikeluarkan dari sarungnya, ancaman telah dinyatakan. Di setiap perkataan atau perbuatan yang dipenuhi oleh amarah, bahkan di setiap pikiran marah pun, siluman itu menjadi tambah besar, tambah buruk, tambah bau, dan tambah kotor makiannya.

    Pertempuran sudah berlangsung beberapa saat ketika sang raja tiba. Dia melihat ada siluman raksasa yang sedang duduk di atas singgasananya. Dia belum pernah melihat sesuatu yang jeleknya minta ampun seperti itu, bahkan tidak di bioskokp sekalipun. Bau busuk yang tertebar dari tubuh siluman itu bahkan bisa membuat belatung jatuh sakit. Dan sumpah-sumpahnya bahkan lebih parah daripada yang pernah Anda dengar di bar-bar terkumuh pada malam minggu yang berjubel pemabuk.

    Sang raja adalah seorang yang bijaksana. Makanya dia jadi raja, dia tahu apa yang harus dilakukan.

    "Selamat datang," sapa sang raja dengan hangat. "Selamat datang di istana saya. Sudahkah seseorang menyuguhkan minuman untuk Anda? Atau makanan?"

    Karena sedikit ungkapan yang lembut itu, tubuh si siluman mengecil beberapa inci, keburukannyha berkurang, baunya berkurang, dan kekasarannya berkurang.

    Para armada istana cepat tanggap dengan maksud sang raja. Seseorang lalu bertanya kepada siluman itu apakah dia mau secangkir teh. "Kami punya Darjeeling, English Breakfast, atau Earl Gray, Atau barangkali Anda lebih suka pepermin? Itu bagus untuk kesehatan Anda, lho." Yang lainnya menelepon untuk memesan pizza, family size, untuk siluman segede itu, sementara yang lainnya membuatkan sandwich, dengan "ham setan" tentunya. Seorang prajurit memijat kaki si siluman, dan yang lain memijati lehernya. "Mmmm...enak sekali," pikir si siluman.

    Karena setiap perkataan, perbuatan, dan pikiran yang baik itu, tubuh si siluman terus mengecil, berkurang buruknya, berkurang bau dan kekasarannya. Sebelum pengantar pizza datang dengan antarannya, si siluman sudah susut ke ukuran semula ketika pertama kali dia datang dan duduk di singgasana raja. Tetapi para penghuni istana tak berhenti berbuat baik. Segera saja siluman itu menjadi begitu kecilnya sampai sulit dilihat lagi. Lalu setelah satu lagi perbuatan baik dilakukan, dia benar-benar lenyap tak berbekas.

    Kita menyebut monster seperti itu sebagai "siluman pemangsa amarah."

    Suatu kali pasangan Anda dapat menjadi "siluman pemangsa amarah". Marahlah kepada mereka, dan mereka akan bertambah parah--tambah jelek, tambah bau, tambah galak kata-katanya. Masalah yang ada menjadi bertambah besar setiap kali Anda marah kepada mereka, meskipun cuma di dalam pikiran saja. Barangkali sekarang Anda bisa menyadari kesalahan Anda dan tahu harus berbuat apa.

    Rasa sakit adalah "siluman pemangsa amarah" lainnya. Ketika kita berpikir dengan marah, "Hei, sakit! Enyahlah dari sini! Kau tak diizinkan!" rasa sakit akan tumbuh seinci lebih besar dan lebih parah dengan cara yang berbeda. Memang sulit untuk bersikap baik kepada sesuatu yang begitu buruk dan garang seperti rasa sakit, tetapi ada masa-masa dalam hidup kita, ketika kita tak punya pilihan lain. Seperti saat sakit gigi, kalau kita menyambut rasa sakit, dengan sungguh-sungguh, dengan tulus, rasa sakit akan menjadi lebih kecil, berkuranglah masalahnya, dan suatu ketika akan lenyap sama sekali.

    Beberapa jenis kanker adalah "siluman pemangsa amarah", monster buruk dan menjijikkan yang duduk di dalam tubuh kita; "singgasana" kita. Lumrah kalau kita berkata, "Enyahlah dari sini! Kau tak diizinkan!" Ketika satu dan lain cara gagal, atau bahkan lebih dini dari itu, semoga kita dapat berkata, "Selamat datang." Beberapa jenis kanker diperparah dengan stres--itulah sebabnya mereka menjadi "siluman pemangsa amarah". Kanker semacam itu tahu diri ketika "raja istana" dengan berani berkata, "Kanker, pintu hatiku terbuka penuh untukmua, apa pun yang kamu lakukan. Masuklah." (Ajahn Brahm)
    0 komentar | Selengkapnya→

    Suara Yang Paling Indah

    Seorang tua yang tidak berpendidikan tengah mengunjungi sebuah kota besar untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia dibesarkan di sebuah dusun di pegunungan yang terpencil, bekerja keras membesarkan anak-anaknya, dan kini sedang menikmati kunjungan perdananya ke rumah anak-anaknya yang modern.

    Suatu hari, sewaktu dibawa berkeliling kota, orang tua itu mendengar suara yang menyakitkan telinga. Belum pernah dia mendengar suara yang bergitu tidak enak didengar semacam itu di dusunnya yang sunyi. Dia bersikeras mencari sumber bunyi tersebut. Dia mengikuti sumber suara sumbang itu, dan dia tiba di sebuah ruangan belakang rumah, di mana seorang anak kecil sedang belajar bermain biola.

    “Ngiiik! Ngoook!” berasal dari nada sumbang biola tersebut.

    Saat dia mengetahui dari putranya bahwa itulah yang dinamakan biola, dia memutuskan untuk tidak akan pernah mau lagi mendengar suara mengerikan tersebut.

    Hari berikutnya, di bagian kota lain, orang tua ini mendengar suara yang seolah membelai-belai telinga tuanya. Belum pernah dia mendengar melodi yang seindah itu di lembah gunungnya, dia pun mencoba mencari sumber suara tersebut. Ketika sampai ke sumbernya, dia tiba di tuangan depan sebuah rumah, di mana seorang perempuan tua, seorang maestro, sedang memainkan sonata dengan biolanya.

    Seketika, orang tua ini menyadari kekeliruannya. Suara tidak mengenakkan yang didengarnya kemarin bukanlah kesalahan dari biola, bukan pula salah anak itu. Itu hanyalah proses belajar dari seorang anak yang belum bisa memainkan biolanya dengan baik.

    Dengan kebijaksanaan polosnya, orang tua itu berpikir bahwa mungkin demikian pula halnya dengan agama. Sewaktu kita bertemu dengan seseorang yang menggebu-gebu terhadap kepercayaannya, tidak lah benar untuk menyalahkan agamanya. Itu hanyalah proses belajar seorang pemula yang belum bisa memainkan agamanya dengan baik. Sewaktu kita bertemu dengan seorang bijak, seorang maestro agamanya, itu merupakan pertemuan indah yang menginspirasi kita selama bertahun-tahun, apa pun kepercayaan mereka.

    Pada hari ketiga, di bagian kota lain, si orang tua mendengar suara lain yang bahkan melebihi kemerduan dan kejernihan suara sang maestro biola. Melebihi indahnya suara aliran air pegunungan pada musim semi, melebihi indahnya suara angin musim gugur di sebuah hutan, melebihi merdunya suara burung-burung pegunungan yang berkicau setelah hujan lebat. Bahkan melebihi keindahan hening pegunungan sunyi pada suatu malam musim salju.

    Itu adalah suara sebuah orkestra besar yang memainkan sebuah simfoni. Bagi si orang tua, alasan mengapa itulah suara terindah di dunia adalah, setiap anggota orkestra merupakan maestro alat musiknya masing-masing dan mereka telah belajar lebih jauh lagi untuk bisa bermain bersama-sama dalam harmoni.

    “Mungkin ini sama dengan agama,” pikir si orang tua. “Marilah kita semua mempelajari hakikat kelembutan agama kita melalui pelajaran-pelajaran kehidupan. Marilah kita semua menjadi maestro cinta kasih di dalam agama masing-masing. Lalu, setelah mempelajari agama kita dengan baik, lebih jauh lagi, mari kita belajar untuk bermain, seperti halnya para anggota sebuah orkestra, bersama-sama dengan penganut agama lain dalam sebuah harmoni!” (Ajahn Brahm)
    0 komentar | Selengkapnya→

    True Story "KETULUSAN"


    Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.
    Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya. “Siapa yang mencuri uang itu?”
    Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!”
    Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!”
    Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? …
    Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”
    Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung.
    Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”
    Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.
    Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus.
    Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik…hasil yang begitu baik…” Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”
    Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku.” Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya?
    Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!” Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.” Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.
    Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.”
    Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu,
    adikku berusia 17 tahun. Aku 20.
    Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).
    Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!”
    Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?” Dia menjawab, tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?”
    Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…”
    Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.” Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.
    Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku.
    “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!” Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..”
    Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya.
    “Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya.
    “Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…”
    Ditengah kalimat itu ia berhenti.
    Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku.
    Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.
    Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau.
    Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.”
    Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.
    Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya.
    Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”
    Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya.
    “Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?”
    Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”
    “Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.
    Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu.
    Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, “Kakakku.”
    Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. “Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah.
    Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu.
    Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”
    Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.
    Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.” Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.
    0 komentar | Selengkapnya→

    tak ada hal yang sia-sia


    Al kisah ada seorang dermawan yg berkeinginan untuk berbuat kebaikan.
    Dia telah menyiapkan sejumlah uang yang akan dia berikan kepada beberapa orang yang ditemuinya.
    Pada suatu kesempatan dia bertemu dengan seseorang maka langsung saja dia menyerahkan uang yang dimilikinya kepada orang tersebut. Pada keesokan harinya tersiar kabar bahwa ada seseorang yang telah memberikan sejumlah uang kepada seorang penjahat beringas. Mendengar kabar ini si dermawan hanya mengatakan” Ya Tuhan aku telah memberikan uang ke pada seorang penjahat”
    Di lain waktu, dia kembali bertemu dengan seseorang, si dermawan pada hari itu juga telah berniat untuk melakukan kebaikan. Ia dengan segera memberikan sejumlah uang kepada orang tersebut. Keesokan harinya tersiar kabar bahwa ada seseorang yang telah memberikan uang kepada seorang koruptor. Mendapat kabar ini si dermawan hanya berkata “Ya Tuhan aku telah memberikan uang kepada koruptor”.
    Si dermawan ini tidak berputus asa, ketika dia bertemu dengan seseorang dengan segera dia menyerahkan sejumlah uang yang memang telah disiapkannya. Maka esok harinya pun tersiar kabar bahwa ada seseorang yang telah memberikan sejumlah uang kepada seorang kaya raya. Mendengar hal ini si dermawan hanya berkata. ” Ya Tuhan aku telah memberikan uang kepada penjahat, koruptor dan seorang yang kaya raya”.
    Sekilas kita bisa menyimpulkan bahwa si dermawan ini adalah seorang yang “Ceroboh” Asal saja dia memberikan uang yang dimilikinya kepada orang yang tidak dikenalnya, padahal jika dia lebih teliti maka niat baik nya itu bisa lebih berguna tersalurkan kepada orang yang memang membutuhkan.
    Tapi ternyata suatu niat yg baik pasti akan berakhir dengan baik, pun begitu pula dengan “kecerobohan” si dermawan.
    Uang yg diberikannya kepada sang penjahat ternyata mampu menyadarkannya bahwa di dunia ini masih ada orang baik, orang yang peduli dengan lingkungan sekitarnya. Penjahat ini bertobat dan menggunakan uang pemberian sang dermawan sebagai modal usaha. Sementara sang koroptor, uang cuma-cuma yg diterimanya ternyata menyentuh hati nuraninya yang selama ini telah tertutupi oleh keserakahan, dia menyadari bahwa hidup ini bukanlah tentang berapa banyak yang bisa kita dapatkan. Dia bertekad mengubah dirinya menjadi orang yang baik, pejabat yang jujur dan amanah. Sementara itu pemberian yg diterima oleh si kaya raya telah menelanjangi dirinya, karena selama ini dia adalah seorang yg kikir, tak pernah terbesit dalam dirinya untuk berbagi dengan orang lain, baginya segala sesuatu harus lah ada timbal baliknya. Dirinya merasa malu kepada si dermawan yang dengan kesederhananya ternyata masih bisa berbagi dengan orang lain.
    Sahabat, tak akan ada yang berakhir dengan sia-sia terhadap sutau kebaikan. Karena kebaikan akan berakhir pula dengan kebaikan. Hidup ini bukanlah soal berapa banyak yang bisa kita dapatkan, tapi berapa banyak yang bisa kita berikan.
    0 komentar | Selengkapnya→

    Dua Bata yang Jelek

    Setelah kami membeli tanah untuk wihara kami pada tahun 1983, kami jatuh bangkrut. Kami terjerat hutang. Tidak ada bangunan diatas tanah itu, bahkan sebuah gubuk pun tidak ada. Pada minggu-minggu pertama, kami tidur diatas pintu-pintu tua yang kami beli murah dari pasar loak. Kami mengganjal pintu-pintu itu dengan batu bata di setiap sudut untuk meninggikannya dari tanah (tidak ada matras-tentu saja, kami kan petapa hutan).

    Biksu kepala mendapatkan pintu yang paling bagus, pintu yang datar, Pintu saya bergelombang dengan lubang yang cukup besar di tengahnya, yang dulunya tempat gagang pintu. Saya sengan karena gagang pintu itu telah dicopot, tetapi malah jadi ada lubang persis di tengah-tengah ranjang pintu saya. Saya melucu dengan mengatakan bahwa sekarang saya tidak perlu bangkit dari ranjang jika ingin ke toilet! Kenyataanya, ada saja, angin masuk melewati lubang itu. Saya tidak bisa tidur nyenyak sepanjang malam-malam itu.

    Kami hanyalah biksu-biksu miskin yang memerlukan sebuah bangunan. Kami tidak mampu membayar tukang--bahan-bahan bangunannya saja sudah cukup mahal. Jadi saya harus belajar cara bertukang: bagaimana mempersiapkan pondasi, menyemen dan memasang batu bata, mendirikan atap, memasang pipa-pipa--pokoknya semua. Saya adalah seorang fisikawan teori dan guru SMA sebelum saya menjadi biksu, tidak terbiasa bekerja kasar. Setelah beberapa tahun, saya menjadi cukup terampil bertukang, bahkan saya menjuluki tim saya "BBC" (Buddhist Building Company). Tetapi, pada saat memulainya, ternyata bertukang itu sangatlah sulit.

    Kelihatannya gampang, membuat tembok dengan batu bata: tinggal tuangkan seonggok semen, sedikit ketok sana, sedikit ketok sini. Ketika saya mulai memasang batu bata, saya ketok satu sisi untuk meratakannya, tetapi sisi lainnya malah jadi naik. Lalu saya ratakan sisi yang naik itu, batu batanya jadi melenceng. Setelah saya ratakan kembali, sisi yang pertama jadi terangkat lagi. Coba saja sendiri!

    Sebagai seorang biksu, saya memiliki kesabaran dan waktu sebanyak yang saya perlukan, Saya pastikan setiap batu bata terpasang sempurna, tak peduli berapa lama jadinya. Akhirnya saya menyelesaikan tembok batu bata saya yang pertama dan berdiri dibaliknya untuk mengagumi hasil karya saya. Saa itulah saya melihatnya--Oh, tidak!-- saya telah keliru menyusun dua batu bata. Semua batu bata lain sudah lurus, tetapi dua baru bata tersebut tampak miring. Mereka terlihat jelek sekali. Mereka merusak keseluruhan tembok. Mereka meruntuhkannya.

    Saat itu, semennya sudah terlanjur keras untuk mencabut dua batu bata itu, jadi saya bertanya kepada kepala wihara apakah saya boleh membongkar tembok itu dan membangun kembali tembok yang baru, atau kalau perlu, meledakkannya sekalian. Saya telah membuat kesalahan dan saya menjadi gundah gulana. Kepala wihara bilang tak perlu, biarkan saja temboknya seperti itu.

    Ketika saya membawa para tamu pertama kami berkunjung keliling wihara kami yang baru setengah jadi, saya selalu menghindarkan membawa mereka melewati tembok bata yang saya buat. Saya tak suka jika ada orang yang melihatnya. Lalu suatu hari, kira-kira 3-4 bulan setelah saya membangun tembok itu, saya berjalan dengan seorang pengunjung dan dia melihatnya.

    "Itu tembok yang indah," ia berkomentar dengan santainya.

    "Pak," saya menjawab dengan terkejut, "Apakah kacamata anda tertinggal di mobil? Apakah penglihatan Anda sedang terganggu? Tidakkah anda melihat dua batu bata jelek yang merusak keseluruhan tembok itu?"

    Apa yang ia ucapkan selanjutnya telah mengubah keseluruhan pandangan saya terhadap tembok itu, berkenaan dengan diri saya sendiri dan banyak aspek lainnya dalam kehidupan. Dia berkata, "Ya saya bisa melihat dua bata jelek itu, namun saya juga bisa melihat 998 batu bata yang bagus."

    Saya tertegun. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga bulan, saya mampu melihat batu bata-batu bata lainnya selain dua bata jelek itu. Di atas, di bawah, di kiri dan di kanan dari dua bata yang jelek itu adalah batu bata-batu bata yang bagus, batu bata yang sempurna. Lebih dari itu, jumlah bata yang terpasang dengan sempurna, jauh lebih banyak daripada dua bata jelek itu. Selama ini,, mata saya hanya terpusat pada dua kesalahan yang telah saya perbuat; saya terbutakan dari hal-hal lainnya. Itulah sebabnya saya tak tahan melihat tembok itu, atau tak rela membiarkan orang lain melihatnya juga. Itulah sebabnya saya ingin menghancurkannya. Sekarang, saya dapat melihat batu bata-batu bata yang bagus, tembok itu jadi tampak tak terlalu buruk lagi. Tembok itu menjadi, seperti yang dikatakan pengunjung itu, "sebuah tembok yang Indah." Tembok itu masih tetap berdiri sampai sekarang, setelah dua puluh tahun, namun saya sudah lupa dimana persisny dimana dua bata jelek itu berada. Saya benar-benar tak dapat melihat kesalahan itu lagi.

    Berapa banyak orang yang memutuskan hubungan atau bercerai karena semua yang mereka lihat dari diri pasangannya adalah "dua bata jelek"? Berapa banyak diantara kita yang menjadi depresi atau bahkan ingin bunuh diri, karena semua yang kita lihat dalam diri kita hanyalah "dua bata jelek"? Pada kenyataanya, ada banyak, jauh lebih banyak bata yang bagus--di atas, di bawah, di kiri, dan di kanan dari yang jelek--namun pada saat itu kita hanya terfokus pada kekeliruan yang kita perbuat. Semua yang kita lihat adalah kesalahan, dan kita mengira yang ada hanyalah kekeliruan semata, karenanya kita ingin menghancurkannya. Dan terkadang, sayangnya, kita benar-benar menghancurkan "sebuah tembok yang indah".

    Kita semua memiliki "dua bata jelek", namun bata yang baik di dalam diri kita masing-masing, jauh lebih banyak daripada bata yang jelek. Begitu kita melihatnya, semua akan tampak tak terlalu buruk lagi. Bukan hanya kita bisa berdamai dengan diri kita sendiri, termasuk dengan kesalahan-kesalahan kita, namun kita juga bisa menikmati hidup bersama pasangan kita. Ini kabar buruk bagi pengacara urusan perceraian, tetapi ini kabar baik bagi Anda.

    Saya telah beberapa kali menceritakan anekdot ini. Pada suatu pertemuan, seorang tukang bangunan mendatangi dan memberi tahu saya tentang rahasia profesinya.

    "Kami para tukang bangunan selalu membuat kesalahan," katanya, "tetapi kami bilang ke pelanggan kami bahwa itu adalah "ciri unik" yang tiada duanya di rumah-rumah tetangga. Lalu kami menagih biaya tambahan ribuan dolar!"

    Jadi, "ciri unik" di rumah Anda, bisa jadi, awalnya adalah suatu kesalahan. Dengan cara yang sama, apa yang Anda kira sebagai kesalahan pada diri Anda, rekan Anda, atau hidup pada umumnya, dapat menjadi sebuah "ciri unik", yang memperkaya hidup Anda di dunia ini, tatkala Anda tidak lagi terfokus padanya. (Ajahn Brahm)
    0 komentar | Selengkapnya→

    PAHITNYA SUATU OBAT

    Alkisah ada seorang raja yang memiliki istri yang sangat ia cintai-nya. Sayang, istrinya tidak bisa memberinya keturunan. Banyak tabib telah berusaha mengobatinya, namun tidak berhasil. Ia diberitahu bahwa ada seorang tabib yang sangat mahir di suatu tempat tertentu.
    “Panggillah ia kemari,” titah sang raja.
    Tak beberapa lama datanglah sang tabib ke hadapan raja.

    “Jika kalian ingin aku mengobatinya, maka biarkanlah aku berdua dengan sang permaisuri, tutuplah dengan hijab,” kata sang tabib. Mereka kemudian meninggalkan kedua orang itu.

    “Setelah kuamati bukuku, ternyata ajalmu telah dekat. Sisa umurmu tak cukup untuk mengandung dan melahirkan. Umurmu hanya tinggal 40 hari lagi,” kata sang tabib kepada permaisuri raja. Setelah merasa cukup berbicara dengannya, sang tabib kemudian mohon diri.

    Sejak pertemuannya dengan sang tabib, nafsu makan permaisuri sangat berkurang. Makan siang dihidangkan, namun ia tidak memakannya. Makan malam disiapkan, ia juga tidak menyentuhnya.Raja khawatir dengan keadaan istrinya.

    “Apa yang terjadi denganmu?” tanya raja.
    “Orang bijak itu mengatakan bahwa umurku tinggal 40 hari,” jelas istrinya. Permaisuri lalu menceritakan semua yang dikatakan oleh sang tabib.

    Semakin hari tubuh sang permaisuri semakin kurus. Empat puluh hari lewat sudah, tetapi ia tidak mati juga. Raja kemudian mengutus orang untuk mengundang sang tabib.

    “Empat puluh hari telah berlalu, namun istriku tetap hidup,” kata raja kepada sang tabib.
    “Sesungguhnya aku tidak tahu kapan ajalku tiba, apa lagi ajal orang lain. Namun saat itu, aku tidak menemukan obat yang lebih manjur dari berita yang menakutkannya. Istrimu selalu makan yang nikmat-nikmat dan kolesterol tinggi sehingga lemak menutup rahimnya. Sekarang temuilah dia dan kumpullah dengannya. Insyaa Allah dia akan hamil.” Tak lama kemudian tersebar berita bahwa permaisuri raja hamil.

    Suatu obat yang manjur biasanya rasanya tidak meng-enakan, tetapi jika kita disiplin memakan-nya sesuai resep, dengan ijin Allah penyakit yang diderita akan segera hilang. Begitupun dengan hidup ini, tidak sedikit kesulitan hidup yang dialami seseorang, dikemudian hari melejitkan seseorang ke puncak kesuksesan. Untuk itu jangan takut minum obat walau rasanya pahit, termasuk obat kehidupan ini.
    0 komentar | Selengkapnya→

    kalau kena musibah, mbok bersyukur aja

    Alkisah tentang seorang raja perkasa yang hobi berburu. Selagi berburu, kudanya meringkik sembari mengangkat kaki ke atas. Raja kaget, lalu terpelanting, kelingkingnya pun putus. Raja sangat marah. ”Sudahlah Paduka. Kalau kena musibah, mbok bersyukur saja,” ujar seorang penasihatnya.

    Raja bukannya luluh malah tambah murka. Dengan lantang berteriak : ‘Penjarakan penasihat goblok ini!’ Para pengawal yang selalu ABS (Asal Bos Senang), terlalu tabu untuk membantah, dengan sigap melaksanakan perintah sang raja. Sang penasihat pun dijebloskan ke bui.

    Lima tahun kemudian, kala berburu, raja ini ditangkap suku primitif. Pria gagah berkulit putih mulus ini akan dipersembahkan pada dewa. Hanya saja, setelah diteliti, lho…, kelingkingnya terpotong. Ia cacat. Terpaksa dilewatkan. Sebagai pengganti, pengawalnya yang tidak cacat dijadikan korban. Pengawal itu dieksekusi, dan rajanya dipulangkan.

    Setelah itu raja menyadari kekhilafannya. Penasihat yang dulu dibui itu pun dilepaskan. ”Ananda memang harus bersyukur tidak memiliki kelingking,” kata Raja, mengakui kesalahannya. Ternyata, sang penasihat pun bersyukur, ”Kalau saja saya tidak dipenjarakan oleh Paduka, mungkin, hamba sudah menggantikan Paduka sebagai tumbal”. Jika kita diberikan musibah, sesungguhnya Tuhan sedang mempersiapkan suatu berkah bagi kita. Maka jangan buruk sangka dulu, apalagi buruk sangka kepada Tuhan.
    0 komentar | Selengkapnya→

    Do'a Orang Teraniaya

    Suatu pagi seorang laki-laki pergi berburu untuk mendapatkan rezeki yang halal. Namun hingga sore, ia belum mendapat satu pun binatang buruan. Lalu ia berdoa dengan tulus:"Ya Allah, anak-anakku menunggu kelaparan di rumah, berilah aku seekor binatang buruan". setelah doanya ia panjatkan, Allah memberikannya rezeki, jala yang dibawa pemburu itu mengenai seekor ikan yang sangat besar. Ia pun bersyukur kepada Allah. kemudian, beranjaklah ia pulang dengan hati riang.

    Di tengah jalan, ia bertemu dengan kelompok orang dengan seorang raja yang hendak berburu. Raja heran dan takjub luar biasa begitu melihat ikan besar yang dibawa pemburu itu. Lalu, ia menyuruh pengawal untuk merampas ikan itu dari sang pemburu.

    Tanpa susah payah, raja itupun mendapatkan ikan itu. dengan gembira, ia langsung pulang. Ketika sampai di istana, ia mengeluarkan dan membolak-balik ikan itu sambil tertawa ria. tiba-tiba ikan itu mengigit jarinya. akibatnya, badan sang raja panas dingin, sehingga malam itu sang raja tidak bisa tidur.

    dengan rasa cemas, raja itupun memerintahkan agar seluruh dokter dihadirkan untuk mengobati sakitnya. semua dokter menyarankan agar jarinya itu dipotong untuk menghindari tersebarnya racun ke anggota badan lain. Raja pun menyetujui nasihat mereka. Namun setelah jarinya dipotong, ia tetap tidak dapat istirahat karena ternyata racun itu telah menyebar ke bagian tubuh lainnya,

    Para dokter pun menyarankan agar pergelangan tangan raja dipotong dan raja pun menyetujuinya. Namun setelah pergelangan tangannya dipotong, tetap saja raja tidak dapat memejamkan matanya, bahkan rasa sakitnya makin bertambah. ia berteriak dan meringis dengan keras karena racun itu telah merasuk dan menyebar ke anggota tubuh lainnya.

    Seluruh dokter akhirnya menyarankan agar tangan hingga siku raja dipotong. raja pun menyetujuinya. Setelah tangan hingga sikunya dipotong, sakit jasmaninya kini telah hilang, tetapi diri dan jiwanya tetap belum tenang. Semua dokter akhirnya menyarankan agar raja dibawa ke seorang dokter jiwa (ahli hikmah).

    Dibawalah sang raja menemui seorang dokter jiwa. dan diceritakan seluruh kejadian seputar ikan yang ia rampas dari pemburu itu. Mendengar hal itu, ahli hikmah berkata, "Jiwa Tuan tetap tidak akan tenang selamanya sampai pemburu itu memaafkan dosa dan kesalahan yang telah Tuan perbuat."

    Kemudian raja itupun mencari pemburu itu.setelah didapatkan, raja menceritakan kejadian yang dialaminya. dan ia memohon agar si pemburu itu memaafkan semua kesalahannya. Si pemburu pun memaafkannya sambil berjabat tangan.

    Sang raja penasaran ingin mengetahui apa yang dikatakan si pemburu ketika raja merampas ikannya. "Wahai pemburu apa yang kau katakan ketika aku merampas ikanmu itu?" tanya sang raja.

    "Aku hanya mengatakan 'ya Allah sesungguhnya dia telah menampakkan kekuatannya kepadaku, perlihatkanlah kekuatan-Mu kepadanya!" jawab pemburu itu.

    Sungguh, doa orang teraniaya sangat mustajab, maka berhati-hatilah dalam bertindak. Wallahu 'alam bi shawab.
    2 komentar | Selengkapnya→

    Selembar Bulu Mata

    Diceritakan di Hari Pembalasan kelak, ada seorang hamba Allah sedang diadili. Ia dituduh bersalah, menyia-nyiakan umurnya di dunia untuk berbuat maksiat. Tetapi ia berkeras membantah. "Tidak. Demi langit dan bumi sungguh tidak benar. Saya tidak melakukan semua itu.

    "Tetapi saksi-saksi mengatakan engkau betul-betul telah menjerumuskan dirimu sendiri ke dalam dosa," jawab malaikat. Orang itu menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu ke segenap penjuru. Tetapi anehnya, ia tidak menjumpai seorang saksi pun yg sedang berdiri. Di situ hanya ada dia sendirian. Makanya ia pun menyanggah, "Manakah saksi-saksi yang kau maksudkan? Di sini tidak ada siapa kecuali aku dan suaramu." "Inilah saksi-saksi itu," ujar malaikat. Tiba-tiba mata angkat bicara, "Saya yang memandangi." Disusul oleh telinga, "Saya yg mendengarkan." Hidung pun tidak ketinggalan, "Saya yang mencium." Bibir mengaku, "Saya yang merayu." Lidah menambah, "Saya yang mengisap." Tangan meneruskan, "Saya yang meraba dan meremas." Kaki menyusul, "Saya yang dipakai lari ketika ketahuan." "Nah kalau kubiarkan, seluruh anggota tubuhmu akan memberikan kesaksian tentang perbuatan aibmu itu, ucap malaikat.

    Orang tersebut tidak dapat membuka sanggahannya lagi. Ia putus asa dan amat berduka, sebab sebentar lagi bakal dijebloskan ke dalam jahanam. Padahal, rasa-rasanya ia telah terbebas dari tuduhan dosa itu. Tatkala ia sedang dilanda kesedihan itu, sekonyong-konyong terdengar suara yang amat lembut dari selembar bulu matanya: "Saya pun ingin juga mengangkat sumpah sebagai saksi." "Silakan", kata malaikat. "Terus terang saja, menjelang ajalnya, pada suatu tengah malam yg lengang, aku pernah dibasahinya dengan air mata ketika ia sedang menangis menyesali perbuatan buruknya. Bukankah nabinya pernah berjanji, bahwa apabila ada seorang hamba kemudian bertobat, walaupun selembar bulu matanya saja yang terbasahi air matanya, namun sudah diharamkan dirinya dari ancaman api neraka

    Maka saya, selembar bulu matanya, berani tampil sebagai saksi bahwa ia telah melakukan tobat sampai membasahi saya dengan air mata penyesalan." Dengan kesaksian selembar bulu mata itu, orang tersebut di bebaskan dari neraka dan diantarkan ke syurga. Sampai terdengar suara bergaung kepada para penghuni syurga:

    "Lihatlah, Hamba Tuhan ini masuk syurga karena pertolongan selembar bulu mata." (atas rahmat Allah) Sungguh Allah Maha Pemberi Karunia....(milis muslim)
    0 komentar | Selengkapnya→

    Nenek Pemungut Daun

    Dahulu kala di sebuah kota, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan.

    Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari di siang hari itu sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya.

    Pada suatu hari Takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang. Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai salat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. "Jika kalian kasihan kepadaku," kata nenek itu, "Berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya."

    Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa. Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya tetapi dengan dua syarat: pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup.

    Sekarang ia sudah meninggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu.

    "Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai," tuturnya. "Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Kanjeng Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu salawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan salawat kepadanya." (milis)
    0 komentar | Selengkapnya→

    Kisah Nabi Sulaiman dan semut

    Suatu hari Nabi Sulaiman as. sedang berjalan-jalan. Ia melihat seekor semut sedang berjalan sambil mengangkat sebutir buah kurma. Nabi Sulaiman AS terus mengamatinya, kemudian beliau memanggil si semut dan menanyainya, "Hai semut kecil untuk apa kurma yang kau bawa itu? Si semut menjawab, "Ini adalah kurma yang Allah SWT berikan kepada ku sebagai makananku selama satu tahun."

    Nabi Sulaiman as. kemudian mengambil sebuah botol lalu ia berkata kepada si semut, "Wahai semut Kemarilah engkau, masuklah ke dalam botol ini aku telah membagi dua kurma ini dan akan aku berikan separuhnya padamu sebagai makananmu selama satu tahun. Tahun depan aku akan datang lagi untuk melihat keadaanmu".

    Si semut taat pada perintah Nabi Sulaiman AS. Setahun telah berlalu. Nabi Sulaiman AS datang melihat keadaan si semut. Ia melihat kurma yang diberikan kepada si semut itu tidak banyak berkurang.

    Nabi Sulaiman AS bertanya kepada si semut, "hai semut mengapa engkau tidak menghabiskan kurmamu?. Lalu semut menjawab, "Wahai Nabiullah, aku selama ini hanya menghisap airnya dan aku banyak berpuasa.Selama ini Allah SWT yang memberikan kepadaku sebutir kurma setiap tahunnya, akan tetapi kali ini engkau memberiku separuh buah kurma. Aku takut tahun depan engkau tidak memberiku kurma lagi karena engkau bukan Allah Pemberi Rizki (Ar-Rozak)", jawab si semut.
    0 komentar | Selengkapnya→

    Koleksi Terbaru ARin Boutique

    Paling Banyak Di Baca

     

    TRAVELLING

    KULINER

    KESEHATAN

    TIPS

    WANITA MUSLIMAH

    CORETAN